Selasa, 15 November 2011

TASAWUF MU.C

ILMU AKHLAK
(Pengertian, Ruang Lingkup Pembahasan dan Tujuan)
A.    Pendahuluan.
Ada pertanyaan menarik seputar masalah akhlak “Mengapa orang–orang Nasrani umumnya berkelakuan baik, berpengatahuan tinggi dan menghargai kebersihan, sedangkan kita umat Islam umumnya kurang dapat dipercaya, bodoh-bodoh dan tidak tahu kebersihan ?. Hal ini terjadi di berbagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti Siria, Turki, Suriah, Yordania, Aljazair, India, Pakistan dan tidak ketinggalan juga di juga Indonesia. Bahkan di pusat lahirnya Islam (Makkah dan Madinah), kita jumpai juga umat Islam belum maju, dari segi budi pekerti juga tidak menggembirakan.
Yang dimaksud orang Nasrani tersebut barangkali orang-orang Eropa. Eropa memang sedang dalam kemajuan dari segi ekonomi, sehingga membuat orang Eropha mempunyai kesempatan memperoleh pendidikan lebih baik. Sedang timur masih dalam kemunduran, kemiskinan dan ketidaktahuan.
Kalau kita perhatikan orang Islam yang pergi ke masjid, wajah mereka tidak berseri-seri dengan pakaian (kadangkala) seadanya bahkan cenderung dekil, kotor. Sebaliknya orang-orang Nasarani yang pergi ke Gereja bersih-bersih, baik wajah maupun pakaiannya. Secara ekonomi mereka juga lebih baik, juga dalam bidang pendidikan. Sebaliknya orang Islam banyak ketinggalan.
Pernyataan tersebut di atas barangkali ada benarnya meskipun tidak seluruhnya dan memang harus kita akui bahwa banyak komunitas muslim yang memang identik dengan gambaran dari pernyataan tersebut di atas.
Hal demikian menyadarkan kita bahwa persoalannya bukanlah semata-mata persoalan kebudayaan, tetapi juga masalah agama. Pertanyaanya adalah : Apakah Islam tidak mementingkan ekonomi, pemakaian akal dan akhlak ?. Bagaimana sebenarnya kedudukan akhlak dalam pendidikan agama Islam selama ini ?.
Islam adalah agama yang lengkap dan utuh, yang memberikan penghayatan keagamaan eksoterik (lahiriyah) dan esoteric (batiniyah) secara bersamaan. Tekanan berlebihan kepada salah satunya akan menghasilkan kepincangan yang menyalahi prinsip ekuilibrium (tawazun) dalam Islam. Namun kenyatannya banyak kaum muslimin yang penghayataan keislamannya lebih mengarah kepada bentuk lahiriyah saja, atau hanya mengarah kepada aspek batiniyah saja.
Dalam hidup manusia dituntut untuk menjalankan akhlak vertical dengan baik, sekaligus tidak mengabaikan akhlak horizontalnya. Apakah itu menyangkut etika pergaulannya dengan sesama manusia, atau etikanya terhadap sumber daya alam ini. Kesetiaan dan konsistensi terhadap akhlak vertical ini akan melahirkan rahmat bagi kehidupan umat. Demikian juga pemeliharaan dan pembudidayaan alam semesta ini akan mendatangkan ketenteraman, kenyamanan, rizki, keidahan dan kesejahteraan hidup manusia. Sebaliknya akhlak yang buruk kepada Tuhan, kepada sesama dan kepada lingkungan akan mendatangkan bencana. Mampukah manusia menjalankan peran gandanya tersebut ?.
B.    Pengertian Akhlak.
Dalam mendefinisikan akhlak, setidaknya ada dua pendekatan yang dapat dugunakan. Pertama adalah pendekatan etimologis (lingusitik) dan kedua adalah pendekatan terminologis (istilah).
1.    Arti Bahasa
Akhlak berasal dari bahsa Arab, yaitu isim masdar dari kata  أخلق- يخلق - إخلاقا akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, yang mengikuti wazan  أفعل - يفعل – إفعالاaf’ala yuf’ilu if’aalan, yang berarti perangai, tabi’at, watak, adat kebiasaan, peradaban yang baik dan al-din (agama). Tetapi arti etimologis tersebut kurang sesuai, karena masdar dari kata أخلق akhlaqa adalah إخلاقا ikhlaqan bukan أخلاقا akhlaqan. Ada yang mengatakan bahawa kata akhlaq adalah isim jamid yang tidak memiliki akar kata, yang sudah demikian adanya.
Akhlak adalah jama’ dari kata  خلقKhilqun atau  خلقkhuluqun yang berarti adat kebiasaan (al-‘adah), perangai, tabi’at (al-sajiyyat), watak (al-thab’), adab/sopan santun (almuru’ah) dan agama (al-din). Kalimat tersebut  mengandung segi-segi persesuain dan erat kaitannya dengan “Khaliq” (خالق) yang berarti pencipta dan juga “Makhluq” (مخلوق) yang berarti yang diciptakan.
Hakikat makna Khuluq adalah gambaran batin manusia yang tepat, yaitu jiwa dan sifat-sifatnya. Sedangkan Khalq merupakan gambaran bentuk luar atau raut muka, warna kulit , tinggi rendahnya tubuh dan lain sebagainya. Jadi makna khuluq dari segi bahasa identik dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun dan tata krama.
Dalam bahasa Yunani, “Akhlak” dikenal dengan istilah ethos atau etika yang mengandung arti semua usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan maslah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik, dan etika adalah sebuah ilmu bukan sebuah ajaran.
Menurut para ahli di masa lalu (al-Qudama’) akhlak adalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang dimaksud akhlak adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik atau buruk.
Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku (‘ilm al-suluk) atau tahdhib al-akhlak (falsafah akhlak), atau  al-hikmat al-amaliyyah, atau al-hikmat al-kulliyat. Yang dimaksud ilmu terebut adalah pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan dan cara memperolehnya, agar jiwa menjadi bersih dan pengetahuan tentang kehinaan-kehinaan jiwa dan kemudian mensucikannya.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata Akhlak diartikan sebagai etika, moral, watak, budi pekerti, tingkah laku atau kelakukan. Tetapi terdapat pengertian yang berbeda ketika menyangkut perilaku lahir dan batin manusia. Etika, moral, susila, cenderung kepada perilaku manusia secara lahiriyah, sedangkan akhlak cenderung pada perilaku lahir dan batin. Kata akhlak walaupun diambil dari bahasa arab yang biasa diartikan tabiat, perangai, kebiasaan bahkan agama, namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam al-Qur’an. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal (mufrad) yaitu khuluq yang tercantum dalam surat Al-Qalam ayat 4 :  وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ    “Sesungguhnya engkau Muhammad” berada di atas budi pekerti yang agung. Juga dalam surat al-Syuara’ ayat  137 : إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.
Ayat pertama menggunakan katah khuluq untuk arti budi pekerti, sedangkan ayat kedua untuk arti adat kebiasaan. Dengan demikian kata akhlak atau khuluk secara bahasa berarti budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, muru’ah atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabi’at.
Ayat tersebut di atas dinilai sebagai konsideran pengangkatan Nabi Muhammad Saw. Sebagai Rasul. Kata Akhlak juga bisa ditemukan dalam hadis-hadis Nabi Saw, yang salah satunya sangat popular adalah : إِنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق.  “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak. Dan juga hadits riwayat Tirmidzi :  أكمل المؤمنين إيمانا وأحسنهم خلقا  “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi pekertinya”.
Beberapa pengertian akhlak secara bahasa tersebut di atas akan membantu kita untuk mendefinisikan akhlak dari segi istilah.
2.    Arti Istilah
Pengertian akhlak dari segi istilah, dapat merujuk kepada pengertian yang dirumuskan oleh para ahli ilmu Akhlak dan tasawuf, seperti Ibn Miskawaih yang dikenal sebagai pakar dalam bidang Ilmu Akhlak :
حَالٌ لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهَا الَى أَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَلَا رُوِيَةٍ.
“Adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendoroangnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin mendefinisikan, Akhlak adalah :
عبارةٌ عن هيئةٍ فى النفس راسخةٌ عنها تصدرُ الأفعالُ بسهولةٍ ويسرٍ من غير حاجةٍ الى فكرٍورويةٍ.
“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Ibrahim Anis dalam Mu’jam al-Washit mendefiniskan Akhlak sebagai :
حالٌ للنفس راسخةٌ تصدر عنها الأعمالُ من خيرٍ أوشرٍمن غير حاجةٍ الى فكرورويةٍ.
Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang menimbulkan macam-macam perbuatan baik dan buruk dengan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
Sementara itu Abd. Hamin Yunus mendefiniskan Akhlak adalah :
الأخلاق هى صفات الإنسان الأدبية
Akhlak adalah segala sifat manusia yang terdidik.
Ahmad Amin seorang Mesir yang juga alumni al-Azhar University mendefiniskan Akhlak sebagai berikut :
عرف بعضهم الخلق بأنه عادة الإرادة يعني أن الإرادة إداعتادت شيئا فعادتها هي المسماة بالخلق
Sebagian orang memahami bahwa yang disebut akhlaq adalah kehendak yang dibiasakan, dalam arti kehendak yang dibiasakan itu kemudian dinamakan akhlak.
Menurut Ahmad Amin, kehendak adalah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah mengalami kebimbangan. Sedangkan kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga menjadi mudah untuk dilakukan. Keduanya mempunyai kekuatan yang kalau digabungkan akan yang besar dan itulah yang disebut akhlak.
Farid Ma’ruf membuat kesimpulan, bahwa yang dinamakan akhlak adalah “Kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
Dari definisi di atas, baik secara terminologis maupun etimologis, nampaknya tidak ada perbedaan yang signifikan, bahkan memiliki kemiripan satu sama lain dan cenderung saling melengkapi, sehingga ada beberapa ciri kesamaan cara pandang yang terdapat dalam Akhlak :
a.    Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kebiasaan bahkan kepribadian.
b.    Akhlak adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan mudah oleh seseorang, bahkan tidak perlu adanya pemikiran.
c.    Akhlak adalah murni perbuatan pelakunya, sedikitpun tidak ada interfensi dari luar baik itu paksaan atau suruhan.
d.    Akhlak adalah perbuatan yang realistis, tidak main-main atau sandiwara.
e.    Akhlak adalah perbuatan yang baik dilakukan semata-mata karena Allah SWT.
3.    Ilmu Akhlak.
Dalam Perkembangan selanjutnya akhlak tumbuh dan berkembang menjadi sebuah disiplin ilmu dan memiliki ruang lingkup pembahasan, tujuan, rujukan, aliran dan tokoh yang mengembangkannya. Dari beberapa aspek itu kemudian membentuk satu kesatuan yang saling terkait dan menjadi sebuah ilmu.
Ibrahim Anis dalam Mu’jam al-Wasith mendefinisikan Ilmu Akhlak adalah :
العلم موضوعه أحكامٌ قيمية تتعلق باالآعمال التى توصف بالحسن و القبخ
Ilmu yang obyek pembahasannya adalah tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dinamakan dengan baik dan buruk.
Sementara itu Abdul Hamid Yunus dalam bukunya Da’iratul Ma’arif menjelaskan bahwa ilmu Akhlak adalah :
العلم بالفضائل وكيفيةِ إقتنائِها لتَتَحلىَ النفسُ بها وبالردائلِ وكيفيةِ تَوْقِيهاَ لِتَتَخلَى عنها
Ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara mengikutinya hingga terisi dengannya dan tentang keburukan dan cara  menghindarinya hingga jiwa kosong daripadanya.
Dengan demikian yang dimaksud dengan Ilmu Akhlak adalah ilmu yang mengkaji suatu perbuatan yang yang kemudian diberi nilai baik atau buruk.
C.    Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak
Ruang lingkup pembahasan Ilmu Akhlak adalah semua perbuatan, tingkah laku manusia yang kemudian diberi nilai dan ditetapkan sebagai perbuatan baik atau buruk. Dengan demikian obyek pembahasan Ilmu Akhlak adalah berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap perbuatan seseorang. Ukuran yang digunakan untuk mengatakan bahwa perbuatan itu baik atau buruk adalah normative, sedangkan untuk menilai apakah perbuatan itu benar atau salah dalah akal pikiran.
Muhammad Al-Ghazali berpendapat bahwa kawasan pembahasan Ilmu Akhlak adalah seluruh aspek kehidupan manusia, baik ia sebagai individu mapun kelompok. Jadi yang menjadi obyek kajian Ilmu Akhlak bukan hanya sebatas tingkah laku manusia secara individu, akan tetapi juga menyangkut tingkah laku manusia yang bersifat sosial. Kriteria perbuatan akhlak itu adalah segala perbuatan yang dilakukan untuk orang lain. Semua perbuatan yang diperuntukkan diri pelaku bukan termasuk perbuatan akhlaki. Dengan kata lain bahwa tujuan perbuatan akhlaki itu adalah untuk orang lain, dan di sini didefinisikan sebagai tujuan.
Meskipun dikatakan tadi bahwa pembahasan Ilmu Akhlak menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, tetapi ada beberapa hal yang harus dicatat, bahwa tidak semua perbuatan manusia menjadi garapan Ilmu Akhlak, seperti perbuatan alamiah manusia yang sudah merupakan sunnatullah. Perbuatan dimaksud adalah, seperti makan ketika lapar, minum ketika haus, atau pembelaan diri ketika dihina orang lain dalam rangka membela hak-haknya dan sebagainya, tidak termasuk termasuk perbuatan akhlaki (perbuatan alami).
Perbedaan antara perbuatan akhlaki dan alami adalah, bahwa perbuatan akhlaki itu layak dipuji dan disanjung. Dengan kata lain manusia mengakui akan nilai agung suatu perbuatan akhlaki. Intuisi manusia mengakui akan ketinggian dan keagungan suatu perbuatan akhlaki. Nilai dimaksud jelas bukan nilai yang bersifat materi, tetapi kedudukan yang lebih tinggi dalam diri manusia yang tidak dapat disejajarkan dengan uang atau barang.
D.    Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak.
Sebagaimana telah dibahas dimuka, bahwa Ilmu Akhlak itu membahas seluruh perbuatan manusia, kemudian menentukan kriteria baik dan buruk, maka dengan mengetahuinya seseorang akan terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik. Begitu juga dengan mengetahui hal buruk, sesorang akan terdorong untuk meninggalkan dan akhirnya terhindar dari bahaya yang menyesatkan dirinya dan orang lain. Ibnu Miskawaih (ahli filsafat Akhlak) menjelaskan bahawa manfaat mempelajari Ilmu Akhlak adalah untuk mengetahui segala keutamaan (kebaikan) dan cara penerapannya dalam tingkah laku agar jiwa menjadi suci.
Ilmu Akhlak sangat berguna dalam rangka mengarahkan dan mewarnai berbagai akitifitas kehidupan manusia. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibarengai dengan akhlak yang mulia, maka memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Sebaliknya jika tiddak disertai dengan akhlak, akan disalahgunakan dan justru akan membawa kerusakan dan bencana.
Ibnu Khaldun mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari panca indera atau anggota tubuh, akal fikiran dan hati sanubari. Fiqh berfungsi membersihkan anggota tubuh atau apa yang disebut dengan istilah thaharah. Filsafat berfungsi sebagai pembersih dan meluruskan akal pikiran. Sedangkan Akhlak Tasawuf  berfungsi untuk membersihkan hati sanubari (ruhani). Di sinilah letak manfaat mempelajri Ilmu Akhlak Tasawuf, sehingga hati penjadi bersih, suci dan terhindar dari penyakit hati atau sifat-sifat buruk, tidak terpuji, seperti ananiyah, al-bukhlu, al-dzulmu, hasad dan lain sebagainya.
Dengan mempelajari Ilmu Akhlak diharapkan manusia  :
1.    Dapat terbiasa melakukan yang baik, indah, mulia, terpuji, serta menghindari yang buruk, jelek, hina dan tercela.
2.    Agar hubungan antara manusia dengan Allah, dengan sesama makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonis.
3.    Dapat mengetahui batas antara baik dan buruk dan dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan proporsinya.
Namun demikian, sebenarnya dengan memaham ilmu akhlak itu bukanlah menjadi jaminan, bahwa setiap yang mempelajarinya secara otomatis menjadi orang yang berakhlak mulia, bersih dari berbagai sifat tercela.
Ilmu Akhlak ibarat dokter yang hanya memberikan penjelasan penyakit yang diderita pasien dan memberikan obat-obat yang diperlukan untuk mengobatinya. Dokter menjelaskan apa dan bagaimana memelihara kesehatan pasien agar ia sembuh dari penyakitnya; memberikan saran-saran dan peringatan bahaya-bahaya penyakit yang diderita pasiennya agar ia lebih berhati-hati menjaga dirinya.
Jadi tugas dokter bukan untuk menyembuhkan pasien, tetapi dia menjelaskan dengan sesempurna mungkin mengenai penyakit atau gejala-gejala penyakit bila si pasien tidak menghentikan merokok atau tidak meninggalkan minum-minuman keras, misalnya. Jadi, kesembuhan suatu penyakit sangat tergantung kepada si pasien apakah setelah ia mendapat keterangan dari dokter maukah dia menurutinya atau tidak. Jika dituruti, maka akan ada harapan terhindar dari penyakit atau penyakit yang sedang diderita itu akan berangsur-angsur hilang dan dia menjadi sehat.
Dengan demikian, manfaat ilmu akhlak dapat dipahami bahwa sesungguhnya ilmu akhlak tidak memberi jaminan, seseorang menjadi baik. Ilmu akhlak membuka mata hati seseorang untuk mengetahui suatu perbuatan dapat dikatakan baik atau buruk. Selain itu juga memberikan pengetian apa faedahnya jika berbuat baik dan apa pula bahayanya jika berlaku jahat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Footer Widget 1

Footer Widget 3

Visitors

new

new
satu
Loading...

Label

Blogger Tricks

Blogger Themes

Resource

Site Map

Advertise

Moto GP News

Football News

Formula 1 News

Link List

Sport News

Diberdayakan oleh Blogger.
Loading...

Footer Widget 2

About Me

Foto Saya
Meraih Sukses dengan Menjadi Kreatif, Menjadi sukses adalah tujuan hidup bagi sebagian besar orang. Salah satu modal untuk meraih kesuksesan adalah dengan menjadi individu yang kreatif. Dengan kreatifitas yang dimiliki seseorang disertai dengan pengambilan langkah-langkah yang tepat dalam mengembangkan kreatifitas tersebut, Kesuksesan bisa dicapai. Ada beberapa langkah awal yang dapat diambil untuk mencapai kesuksesan dengan memanfaatkan ide kreatif yang Anda miliki, diantaranya:

Mengenai Saya

Foto Saya
trenggalek, jawa timur, Indonesia
Meraih Sukses dengan Menjadi Kreatif, Menjadi sukses adalah tujuan hidup bagi sebagian besar orang. Salah satu modal untuk meraih kesuksesan adalah dengan menjadi individu yang kreatif. Dengan kreatifitas yang dimiliki seseorang disertai dengan pengambilan langkah-langkah yang tepat dalam mengembangkan kreatifitas tersebut, Kesuksesan bisa dicapai. Ada beberapa langkah awal yang dapat diambil untuk mencapai kesuksesan dengan memanfaatkan ide kreatif yang Anda miliki, diantaranya:

Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Basketball News

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost