Selasa, 15 November 2011

study akhlak tasawuf

SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK
( Zaman Yunani Sampai Zaman Modern )
Pendahuluan.
Ilmu Akhlak sebagaimana telah kita jelakan pada pertemuan yang lalu, adalah ilmu yang membahas tentang tingkah laku manusia untuk kemudian dinilai apakah perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk. Pertanyaannya adalah, mulai kapan ilmu akhlak itu dibicarakan secara mendalam dan sistematis ?. Siapa saja tokoh-tokohnya ?. Bagaiman perkembangannya sampai sekarang ?.
Masalah akhlak muncul sejak adanya manusia itu sendiri. Dulu ketika Adam dan Hawa berada di surga, demikian menurut versi Islam dan beberapa agama lain, lalu Tuhan menginginkan mereka hidup di dunia untuk sementara. Tuhan berkata kepada Adam : Berangkatlah kalian ke dunia. Timbul kekhawatiran, bagaimana caranya hidup di dunia itu ?. Tuhan memberikan jaminan : nanti kalau Adam dan Hawa sudah sampai di dunia, Tuhan akan mengirimkan petunjuk. Isi petunjuk itu ialah tentang cara hidup di dunia. Peraturan tentang cara hidup di dunia inilah yang disebut agama.
Berdasarkan berbagai bahan bacaan kita mengetahui bahwa definisi agama banyak sekali. Dari sekian banyak definisi itu agaknya dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, agama menekankan segi rasa iman atau kepercayaan. Kedua, agama sebagai peraturan tentang cara hidup, bahkan agama (al-din) diartikan sebagai akhlak. Kombinasi kedua-duanya mungkin merupakan definisi yang lebih memadai tentang agama. Agama adalah system kepercayaan dan praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut. Dapat juga diartikan, agama ialah peraturan tentang cara hidup, lahir-batin.
Tidak banyak sumber bacaan yang membicarakan tentang sejarah dan pertumbuhan ilmu akhlak secara spesifik. Sebagaimana dikatakan Abuddin Nata, bahwa sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak baru dijumpai dalam karya Ahmad Amin yang berjudul Al-Akhlak. Itupun belum sistematis, karena menggunakan pendekatan kebangsaan, religi dan periodisasi, bukan pendekatan kesejarahan.
A.     Akhlak pada Bangsa Yunani.
Tidak dipungkiri bahwa bangsa Yunani-lah yang pertama-tama menyusun cara-cara hidup yang baik ke dalam suatu system dan melakukan penyelidikan tentang masalah tersebut sebagai bagian dari filsafat. Mereka bertemu dengan pedagang, kaum kolonis dari berbagai negara, sehingga mereka menjadi tertarik akan kenyataan bahwa terdapat berbagai macam kebiasaan, hukum, tata kehidupan dan lain-lain. Bangsa Yunani mulai bertanya ; apakah kebudayaan negara lain benar-benar jauh lebih tinggi ?. tidak seorang Yunanipun mengatakan sebaliknya. Mengapa demikian ?. Kemudian diselidikilah semua perbuatan manusia, dan lahirlah cabang baru dari filsafat, yakni filsafat moral (filsafat kesusilaan) atau etika.
Bangsa Yunani juga dikenal banyak melahirkan tokoh-tokoh kaliber dunia dalam berbagai bidang ilmu, terutama filsafat. Dari sanalah muncul berbagai macam pemikiran yang kemudian diikuti oleh berbagai negara di dunia. Konon, orang yang mula-mula sekali menggunakan akal secara serius adalah orang Yunani bernama Thales, yang kemudian ia diberi gelar bapak filsafat.
Dasar para pemikir Yunani dalam membangun Ilmu Akhlak juga menggunakan pemikiran filsafat, yang bertumpu pada pemikiran tentang manusia, yaitu kajian mendalam terhadap potensi kejiwaan manusia yang bersifat anthropo-centris. Adanya akhlak karena keberadaan manusia itu sendiri, dimana manusia secara fitrah dibekali dengan potensi bertuhan, beragama, kebaikan, dan keburukan.
Ilmu akhlak  pada bangsa Yunani muncul setelah apa yang disebut sophis-ticians, orang bijaksana (500-450 SM). Filosof Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 M). Ia yang pertama kali secara sungguh-sungguh membentuk pola laku hubungan manusia dengan dasar ilmu pengetahuan. Menurutnya keutamaan / akhlak yang mulia itu adalah ilmu. Ini kemudian diikuti oleh Ibnu Sina, yang menyatakan bahwa akhlak yang paling mulia adalah berilmu, sedangkan akhlak yang paling  tercela adalah bodoh.
Tapi benarkah bahwa makin cerdas, makin pandai kita menemukan kebenaran, makin benar maka makin baik pula perbuatan kita. Apakah manusia yang mempunyai penalalaran tinggi, lalu makin berbudi, sebab moral mereka dilandasi analisis yang hakiki, ataukah malah sebaliknya ; makin cerdas makin pandai maka makin pandai kita berdusta ?.
Dalam hal ini Socrates belum menunjukkan secara jelas patokan dan ukuran tentang baik, buruk dan tujuan akhir dari akhlak. Tetapi ia meyakini bahwa ada kebanaran obyektif, berbeda dengan pandangan kaum sofis, yang menyatakan bahwa semua pengetahuan atau kebenaran adalah relatif. Kemudian muncullah beberapa golongan yang mengemukakan teori tentang akhlak yang disandarkan pada Socrates. Golongan itu adalah Cynics dan Cyrenics.
Cynics, dibangun oleh Antithenes yang hidup pada tahun 444-370 SM. Pendapatnya, ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan, dan sebaik-baik manusia ialah orang yang berperangai ketuhanan. Konsekuensinya, mereka rela menderita dan tidak suka kemewahan dunia asalkan ia dapat memelihara akhlak yang mulia dan selalu ingat kepada Tuhan. Pemimpin golongan ini yang terkenal adalah Diogenes yang meninggal pada tahun 323 SM.
Cyrenics, dibangun oleh aristippus yang lahir di Cyrena (kota Barka di utara Afrika). Pendapatnya, mencari kelezatan dan menjauhi kepedihan adalah satu-satunya tujuan hidup yang benar.
Cynics dan Cyrenics, keduanya membicarakan tentang perbuatan baik, utama-mulia, hanya saja ukurannya yang berbeda. Cynics memusat pada Tuhan (Teo-centris), mengidentifikasi sifat Tuhan kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan. Sedangkan Cyrenics, bertumpu pada manusia (antro-pocentris) dengan mengoptimalkan perjuangan dirinya dalam mencapai kelezatan hidup.
Selanjutnya datanglah Plato (427-347 SM) murid Socrates. Ia juga ahli filsafat sebagaimana gurunya. Tulisannya yang mengandung ajaran akhlak adalah Republik. Pandangannya tentang akhlak didasarkan pada teori contoh. Artinya apa yang nampak secara lahiriyah ini adalah manifestasi dari alam rohani, alam idea. Teori contoh ini kemudian dugunakan untuk menjelaskan masalah akhlak. Antara lain adalah contoh kebaikan, yaitu arti yang mutlak, azali, kekal dan sempurna. Apa yang Nampak lahiriahnya (yang tampak nyata) adalah merupakan bayangan atau poto copy dari contoh yang tidak tampak (alam ruhani).
Kemudian datanglah Aristoteles (394-322 SM) yang tidak lain adalah murid Plato. Ia berpendapat bahwa, tujuan akhir yang dikehendaki manusia adalah kebahagiaan. Sedangkan jalan menuju kebahagiaan adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya dan ia mengembangkan teori pertengahan. Menurutnya, setiap kebaikan  adalah berada di tengah di antara dua keburukan (ifrath–tafrith). Misalnya, Dermawan itu berada antara boros dan kikir, keberanian itu adalah tengah-tengah antara membabi buta dan pengecut. Dan juga tentang keutamaan/kebaikan yang lainnya.
Selanjutnya pemikir akhlak Yunani adalah Stoics yang tidak lain mengembangkan faham Cynics. Pendapat mereka banyak diikuti ahli filsafat Yuani dan Romawi. Juga Epicurus yang mengembangkan paham Cyrenics. Paham mereka banyak diikuti sampai pada zaman baru, seperti Gassendi seorang ahli filsafat Perancis (1592-1656). Ia membuka sekolah di perancis dan sudah banyak melahirkan pemikir ternama seperti Mouliere.
Semua ajaran yang dekemukakan para pemikir Yunani tersebut di atas bersifat rasioanlistik, anthropo-centris. Ukuran baik dan buruk mengacu kepada pertimbangan akal pikiran manusia.
Kalau kita perhatikan pandangan dan pemikiran filsafat Yunani tentang akhlak nampak berbeda-beda, tetapi substansi dan tujuannya adalah sama, yaitu menyiapkan angkataan muda Yunani yang tangguh, memiliki semangat nasionalisme yang tinggi dan sadar akan tanggung jawab terhadap tanah airnya.
B.    Akhlak dalam Agama Nasrani.
Agama Nasrani tersiar di Eropa pada abad ke-3 Masehi dan berhasil mempengaruhi pemikiran manusia dengan membawa pokok-pokok ajaran akhlak yang ada dalam Taurat dan Injil. Menurut agama ini Tuhan merupakan sumber akhlak. Tuhanlah yang menjelaskan arti baik dan buruk. Perbuatan baik adalah perbuatan yang disukai Tuhan.
Ajaran akhlak agama Nasrani bersifat teo-centirs dan sufistik yang dikembangkan oleh para pendeta berdasarkan ajaran Taurat, yang hampir sama dengan ajaran stoics dari filsafat Yunani. Keduanya sama-sama mendorong manusia untuk memiliki akhlak yang mulia. Bedanya, agama Nasrani mengutamakan kecintaan kepada Tuhan sebagai pendorong moral, sementara filsafat Yunani bertumpu pada ilmu dan kebijaksanaan.
3.    Akhlak bangsa Romawi (Abad Pertengahan)
Eropa pada abad pertengahan dikuasai dan dihegemoni oleh gereja. Keyakinan gereja, bahwa kebenaran dan kenyataan “hakikat” telah diterima melalui wahyu. Apapun yang diperintahkan wahu menjadi kebenaran mutlak, sehingga segala kreatifitas akal yang bertentangan dan tidak mendukung gereja harus dihilangkan.
Namun demikian ada juga kalangan gereja yang tetap menggunakan pemikiran filsafat Plato, Aristoteles dan juga stoics dalam upaya memperkuat ajaran gereja. Corak ajaran akhlak pada masa ini merupakan perpaduan antara ajaran filsafat Yunani dan ajaran Nasrani. Tokoh yang terkenal adalah Abelard, ahli filsafat Perancis (1079-1142) dan Thomas Aquinas, ahli filsafat berkebangsaan Italia (1226-1274).
C.    Akhlak pada Bangsa Arab.
Pada zaman jahiliyah bangsa Arab tidak memiliki ahli pikir, filosof sebagaimana bangsa Yunani dan Romawi. Hal ini disebabkan belum adanya kegiatan ilmiah pada masa itu. Bangsa Arab hanya memiliki ahli-ahli hikmah dan penyair, yang di dalam syair-syairnya terkandung hikmah untuk melakukan kebajikan dan menjauhi keburukan.
Setelah Islam datang bangsa Arab juga tidak banyak melakukan penyelidikan tentang akhlak yang mengacu kepada ilmu pengetahuan. Mereka merasa puas mengambil akhlak dari agama, dan tidak merasa butuh kepada penyelidikan ilmiah mengenai dasar baik dan buruk. Tetapi ada juga tokoh yang termasyhur melakukan penyelidikan akhlak secara ilmiah adalah Abu Nasr al-Farabi yang meninggal pada tahun 339 H. Juga Ikhwanus Sofa  dan Abu Ali Ibn Sina (370-428 H). Mereka juga mempelajari filsafat Yunani mengenai akhlak. Penyelidikan akhlak terbesar yang pernah dilakukan oleh Ibn Miskawaih yang meninggal pada tahun 421 H. ia menyusun kitab tentang akhlak yang terkenal yaitu Tahdzîb al-akhlâk wa Tathîr al-‘Arâq. Ia mampu mengkombinasikan ajaran filsafat Plato, Aristotels, Gelinus dengan ajaran akhlak dalam agama Islam.
D.    Akhlak dalam Agama Islam.
Agama Islam pada intinya mengajak manusia untuk percaya kepada Tuhan dan mengakui bahwa Tuhan adalah segala-galanya. Dia-lah pencipta, pemilik, pemelihara, pelindung, pemberi rahmat, pengasih dan penyayang terhadap semua makhluk-Nya. Segala apa yang ada di dunia ini diatur oleh-Nya.
Ajaran Islam mengandung petunjuk, jalan hidup manusia yang paling sempurna yang dapat menuntun kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Semuanya terkandung dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Al-Qur’an merupakan sember ajaran Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan prinsip-prinsip perbuatan.
Perhatian ajaran Islam terhadap pembinaan akhlak dapat ditemukan dalam ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan perintah untuk melakukan kebaikan, berbuat adil, menyuruh berbuat baik dan mencegah melakukan kejahatan dan kemungkaran. Al-Qur’an juga berisi perintah untuk melakukan ibadah, seperti shalat, zakat, puasa dan haji, yang keseluruahan dari rangkaian ibadah tersebut apabila dilakukan dengan sebaik-baiknya akan bermuara pada akhlak yang mulia.
Selain mengandung perintah, al-Qur’an juga mengandung larangan untuk menyekutuhan Tuhan, durhaka kepada orang tua, mencuri, berzina, minuman keras, berjudi, sumpah palsu, mengurangi timbangan dan sebagainya, yang semuanya adalah untuk kebaikan manusia.
Sumber akhlak dalam Islam selain al-Qur’an juga merujuk kepada hadis nabi, baik yang berupa ucapan maupun perbuatannya mengandung dan mencerminkan akhlak yang mulia. Keberhasilan risalahnya karena didukung oleh akhlaknya yang mulia dan Nabi diutus ke muka bumi ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak.
Ayat al-Qur’an dan hadis memberi petunjuk dengan jelas bahwa akhlak dalam ajaran Islam telah menemukan bentuk yang lengkap, jelas dan sempurna, sehingga dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama akhlak. Namun demikian dalam pembentukan akhlak dalam Islam tidak eksklusif, dalam arti sangat menghargai pendapat akal pikiran sehat yang sejalan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Ajaran akhlak dalam al-Qur’an dan Al-sunnah bersifat absolut, universal dan mutlak. Tetapi dalam penjabarannya dibutuhkan daya upaya akal pikiran yang dalam bahasa ushul fiqh disebut dengan Ijtihad. Misalanya dalam menjabarkan akhlak terhadap orang tua “bir al-walidain” maka akan ditemukan bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi, tempat dan juga adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat.
Pemikiran filsafat Yunani pada masa Daulah Abbasiyah (8-13 M) juga didopsi ke dalam Islam, yang kemudian melahirkan akhlak yang bercorak falsafi rasionalistik. Ini terjadi pada kalangan Mutakallimin dari golongan Muktazilah yang terlihat dalam lima pokok ajarannya yaitu ; al-Tauhid, al-Wa’ad wa al-Wa’id, al-Manzilatu bain al-Manzilatain dan al-Amr al-Ma’ruf wa al-Nahy an al-Munkar.
Dengan demikian akhlak dalam Islam memiliki dua corak, pertama normatif yang bersumber dari al-Qur’an dan Al-Sunnah, yang berifat universal, mutlak dan basolut. Kedua, rasional dan kultural yang bersumber dari hasil pemikiran akal sehat, adat istiadat yang kebenarannya bersifat relatif, nisbi dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
E.    Akhlak pada Zaman Baru.
Pada pertengahan yang akhir abad lima belas, Eropa mulai masa kebangkitan. Mereka mulai menghidupkan filsafat Yunani Kuno. Akal pikiran yang dulunya dipasung oleh doktrin gereja,  mulai diberi kebebasan. Segala sesuatu mulai dekemukakan, dikecam dan diselidiki, sehingga tegaklah bendera  kemerdekaan, berfikir secara liberal. Segala sesuatu dilihat dengan cara pandang baru, dipertimbangkan dengan ukuran yang baru. Segala sesuatu harus melalui pembuktian secara logika- empiric.
Pola pikir demikian pada perkembangnnya mampu mengubah konsep-konsep akhlak, termasuk dalam menilai baik dan buruk. Dermawan misalnya tidak dianggap mempunyai nilai yang tinggi, sebagaimana terjadi pada abad pertengahan. Sementara itu keadilan mempunyai posisi tertinggi sebagai akhlak yang mulia.
Banyak tokoh dan pemikiran etika yang lahir pada abad ini. Diantaranya adalah Descartes, Shafesbury, Hatshon, Bentham dan Berthand Russel. Pemikiran mereka banyak tersebar dalam berbagai literatur dan menjadi rujukan hidup masyarakat barat sampai sekarang.
Descartes adalah seorang ahli filsafat Perancis yang  hidup sekitar tahun 1596-1659 M. pandangannya tentang akhlak sangat rasionalistik. Ia tidak bisa menerima sesuatu yang belum diuji secara empiric. Pengujian dilakukan mulai yang terkecil, mudah sampai kepada yang kompleks dan rumit.
Shafesbury dan Hatshon, pandangannya tentang akhlak berifat anthropo-centris. Dalam diri manusia terdapat instink untuk mengetahu sesuatu yang baik, indah dan buruk.
Bentham (1747-183) dan Stuart Mill (1906-1873) adalah tokoh yang banyak dipengaruhi pemikiran Epicurus, yaitu mengubah faham tersebut menjadi Utilitarianisme (faham yang didasarkan pada kebahagiaan individualistik menjadi universalistik. Paham ini banyak berpengaruh dan tersebar di Eropa, termasuk dalam pembentukan hukum, politik dan sebagainya, sehingga muncul pola hidup yang mengutamakan kesenangan syahwati.
Immanuel Kant, adalah seorang filosof yang terkenal dari Jerman. Pandangannya tentang moral, etika, juga bersifat anthropo-centirs. Pada dasarnya dalam diri manusia telah memiliki intuisi secara fitri dan alami untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk. Dia berkeyakinan bahwa keberadaan Tuhan hanya bisa dibuktikan melalui intuisi akhlaki dan tidak bisa dibuktikan dengan hanya menggunakan argumentasi akal murni. Dia menyakini adanya ilham-ilham intuitif. Di atas nisannya dituliskan kata-kata yang sangat populer “Dua hal yang selalu membangunkan perasaan : langit yang dipenuhi bintang-bintang dan intuisi yang berada dalam sanubarinya”.
Selanjutnya Kant berpendapat, bahwa perbuatan akhlaki adalah perbuatan yang dikerjakan atas perintah intuisi secara absolut, semata-mata karena perintah intuisinya dan tidak mempunyai tujuan lain. Misalnya ketika seseorang ditanya mengapa anda melakukan ini ?. jawabannya, bahwa intuisinya memang memerintahkan demikian. Tetapi sayang sekali bahwa Kant tidak menghubungkan intuisi tersebut dengan penciptanya, yakni Tuhan. Menurutnya intuisi ada dengan sendirinya.
Pemikir tentang etika dari Barat selanjutnya adalah Bertrant Russel. Corak pemikirannya tentang akhlak bersifat materialistik. Sebab pada dasarnya manusia berifat materialistik, tidak lebih dari wujud benda, dan manusia selalu berpikir untuk dirinya sendiri. Sifat perbuatan akhlaki yang ditujukan untuk orang lain, misalnya mencintai sesama manusia dipandang sebagai kebohongan dan basa-basi saja. Apa yang dilakukan manusia hanyalah untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.
Russel juga berpendapat bahwa akal pikiran manusia berada dalam kendali naluri fisik. Manusia menjadikan akalnya untuk mencari keuntungan, yakni keinginan materialistik.
Russel juga berseberangan dengan Kant, yakni tidak mengakui adanya intuisi akhlaki yakni keindahan dan keburukan esensial dari suatu perbuatan. Dia juga menolak keindahan dan keburukan ruh.
Semua pandangan tentang akhlak yang dikemukakan pemikir dari Barat di atas, bertumpu pada akal pemikiran manusia semata, tidak melibatkan agama atau wahyu Tuhan, sehingga nampak memperlihatkan coraknya yang amat sekuler.













·    PENJELASAN SELENGKAPNYA SILAHKAN DIBACA SENDIRI DALAM BUKU-BUKU REFERENSI.

·    TUGAS MAHASISWA ADALAH MEMBACA DAN BELAJAR.

0 komentar:

Poskan Komentar

Footer Widget 1

Footer Widget 3

Visitors

new

new
satu
Loading...

Label

Blogger Tricks

Blogger Themes

Resource

Site Map

Advertise

Moto GP News

Football News

Formula 1 News

Link List

Sport News

Diberdayakan oleh Blogger.
Loading...

Footer Widget 2

About Me

Foto Saya
Meraih Sukses dengan Menjadi Kreatif, Menjadi sukses adalah tujuan hidup bagi sebagian besar orang. Salah satu modal untuk meraih kesuksesan adalah dengan menjadi individu yang kreatif. Dengan kreatifitas yang dimiliki seseorang disertai dengan pengambilan langkah-langkah yang tepat dalam mengembangkan kreatifitas tersebut, Kesuksesan bisa dicapai. Ada beberapa langkah awal yang dapat diambil untuk mencapai kesuksesan dengan memanfaatkan ide kreatif yang Anda miliki, diantaranya:

Mengenai Saya

Foto Saya
trenggalek, jawa timur, Indonesia
Meraih Sukses dengan Menjadi Kreatif, Menjadi sukses adalah tujuan hidup bagi sebagian besar orang. Salah satu modal untuk meraih kesuksesan adalah dengan menjadi individu yang kreatif. Dengan kreatifitas yang dimiliki seseorang disertai dengan pengambilan langkah-langkah yang tepat dalam mengembangkan kreatifitas tersebut, Kesuksesan bisa dicapai. Ada beberapa langkah awal yang dapat diambil untuk mencapai kesuksesan dengan memanfaatkan ide kreatif yang Anda miliki, diantaranya:

Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Basketball News

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost